Mengubah Masalah Menjadi Energi

Masalah akan selalu ada, itu pasti. Karena hidup ini sesungguhnya hanyalah perpindahan dari satu masalah kepada masalah yang lain. Lapar adalah masalah, maka kita harus mencari makan untuk menghilangkan rasa lapar. Lelah adalah masalah, maka kita harus beristirahat agar kita bisa semangat lagi dalam bekerja. Begitu seterusnya.

Masalah, bagi orang yang selalu melihat sesuatu dengan kacamata negatif adalah beban, kesulitan, dan pesimisme. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kepedulian dan sensitif memberi, masalah adalah tantangan. Masalah adalah motivasi. Masalah adalah optimisme. Mengapa? Karena masalah tidak hanya menyimpan petaka, tetapi juga dia menyediakan ruang yang luas untuk memberi, berkontribusi, agar ada maslahat yang diciptakan. Karena itu, masalah harus dilihat dari banyak sisi agar ia bisa diubah menjadi sebuah kekuatan.

Menebar Cinta Untuk Meraih Keselamatan Bersama

Memberi adalah ekspresi kepedulian. Tak ada kepedulian tanpa sebuah pengorbanan, yang kita buktikan dengan memberi sesuatu, apapun bentuknya.

Kepedulian kita kepada Islam adalah dengan menjaganya, mendakwahkannya, dan menjalankan ajarannya. Kepedulian kita kepada keluarga adalah memberi mereka nafkah, melindungi, dan membimbingnya. Kepedulian kita kepada sesama adalah dengan membantu kesulitannya, menolongnya dari keteraniayaan, dan menunjukinya kepada jalan yang benar. Itu semua adalah bukti cinta dan kasih sayang, dan kita melakukannya agar kehidupan kita dan orang-orang yang kita cintai mendapatkan keselamatan.

Memunculkan Kreativitas dan Inovasi

Masalah pasti selalu ada. Tak akan pernah reda dan tak ada jeda, karena kehidupan selalu bergerak, selalu memunculkan keadaan baru, kebutuhan baru, dan tantangan baru yang memerlukan penyelesaian.

Namun, masalah-masalah yang muncul itu, meskipun terkadang menyulitkan, perlu juga untuk disyukuri. Sebab tanpa masalah, hidup hanya akan berjalan datar dan sepi. Tidak ada dinamika. Tanpa masalah, tidak ada kreativitas dan inovasi.

Mobil dan segala macam alat transportasi diciptakan manusia karena ada kendala jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain, yang sulit ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Segala kemajuan teknologi hadir dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia, karena ada masalah yang dihadapi manusia.

Namun, tidak semua orang yang mampu mencipta dan berkarya dalam masalah. Hanya orang-orang yang memiliki kepekaan, dorongan, dan kegelisahan yang mampu menangkap inspirasi dari masalah. Masalah yang telah membatasi gerak hidup kemudian memunculkan kreativitas, kemauan untuk bekerja keras, serta kesediaannya untuk lelah.

Oleh karena itu, kehadiran masalah tidak harus disambut dengan hardikan atau cacian. Tetapi ia harus dilihat sebagai anugerah yang memberi kesempatan berkreasi. Tentunya, setelah kita menyadarkan diri untuk mau memberi sesuatu yang berguna bagi banyak orang.

Menciptakan Stamina yang Berkesinambungan

Jiwa manusia selalu membutuhkan energi untuk mencapai kepuasan-kepuasannya, karena dengan kepuasan inilah ia akan menemukan kenyamanan dan ketenangannya. Dengan kepuasan inilah staminanya akan terus terjaga dan memiliki ketahanan yang berkesinambungan.

Ibadah tentulah energi paling besar yang menguatkan stamina jiwa. Tanpa ibadah, jiwa akan menjadi gersang, laksana bumi yang tidak dihujani. Tanpa ibadah, jiwa tak akan menemukan kedamaian dan ketentraman yang hakiki.

Memberi adalah Anak Tangga Menuju Kesuksesan

Menerima pemberian orang lain, entah hadiah atau sekedar pujian tentu akan menyenangkan. Siapapun itu. Apalagi jika sesuatu itu adalah yang memang kita harapkan. Ini adalah perasaan dari sisi orang yang menerima sesuatu pemberian dari orang lain.

Bagaimana dengan orang yang memberi? Seperti apa perasaannya? Adakah imbalan yang ia harapkan? Seringkali kita salah mengartikan bahwa memberi sesuatu itu harus disertai imabalan. Ini tentu prinsip yang salah dalam memberi karena dapat menghilangkan nilai dari pemberian itu sendiri.

Prinsip memberi dan berbagi sesungguhnya adalah prinsip investasi kepercayaan. Karena prinsip mendahulukan memberi adalah prinsip melepaskan energi kebaikan dari dalam diri. Melepaskan energi positif dapat dilakukan dengan berbagi semangat, berbagi ide, dan solusi bagi orang lain. Semakin banyak kita melakukan pekerjaan positif, semakin banyak melepaskan energi positif dan semakin banyak yang akan kembali kita terima.

Energi positif berupa kebaikan ini akan kembali kepada diri kita dalam jumlah yang berlipat ganda. Namun mungkin kita akan menerimanya dalam bentuk yang berbeda, misalnya kebahagiaan hati, kepuasan jiwa, ketenangan hidup, bahkan bisa saja berupa kemudahan rezeki.

Sumber:

Majalah Tarbawi Edisi 196 Th. 10, 5 Februari 2009

TrackBack Identifier URI

  • Laman

  • Al-Qur’an Site

    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” An-Nisa’:142
  • Mutiara Nasihat

    Saudara-Ku.. Dalam Perjalanan Dakwah ini, ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh. Ia berkata "Aku Lelah". Namun, ada juga orang-orang yang tubuhnya lelah, pikirannya penat, problem hidupnya banyak, ekonominya pas-pasan, tetapi semangatnya kuat! Ia Berkata "LILLAH" karena Allah.. Maka ikhlaskanlah saudara-Ku! Sebab bila tidak kau akan tersakiti.. Untuk semua saudaraku yang merasa dirinya "dikhianati" oleh dakwah, yakinlah, kembalikanlah semua amal dan dakwah kita kepada pemilik dakwah ini.. Jangan berhenti berjuang! Jangan berhenti menasihati! Dan jangan pernah berhenti untuk melangkah bersama!! Sebab kita beramal bukan untuk manusia, bukan untuk golongan, bukan untuk organisasi, bukan untuk partai.. Semua ini hanyalah sarana untuk mencapai ridho-Nya!!
  • Hadist Corner

    Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr رضي الله عنه, katanya: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)
  • Kotak Ngoceh..