Nasehat Cinta

Cinta dalam Islam bukan hal yang diharamkan selama berupa perasaan di dalam hati manusia. Allah tidak menghisab manusia atas apa yang dialami oleh perasaan-perasaannya jika belum diterjemahkan dalam bentuk tindakan nyata yang bertentangan dengan perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Karena itu, tidak ada masalah bagi seorang gadis untuk mencintai seorang pemuda yang menarik perasaanya (menyebabkan jatuh cinta, dan pemuda itu sesuai dengan idaman dan ambisi gadis itu, ia ingin hidup berdampingan dengannya. Sebagaimana juga tidak ada masalah bagi seorang pemuda untuk mencintai gadis yang sesuai dengan idaman dan ambisinya. Hal ini tetap halal selama tidak melanggar batas-batas yang diharamkan. Atas dasar ini seseorang yang sedang kasmaran kepada orang lain, seyogyanya memperhatikan batas-batas dan melawan hawa nafsunya, sehingga tidak terjerumus dalam kemaksiatan kepada Allah swt.

Sekali lagi islam menjamin fitrah cinta yang terbenam dalam dada manusia untuk mencintai segala sesuatu dan semua orang, dan cinta ini harus ditempatkan sebagai lokus atau derivat cinta Ilahi.

Apa sih sebenarnya cinta majasi dan cinta hakiki itu?

Cinta majasi adalah cinta yang mendefinisikan dirinya sendiri dalam kesenagan dan kenikmatan badani atau kenikmatan ragawi, atau kenikmatan jasadi. Tujuannya adalah pemuasan nafsu. Ego pencinta menjadi pusat cintanya. Perwujudannya bisa macam-macam sesuai dengan dorongan nafsu yang ingin dipenuhi. Bila cinta tersebut maujud dalam hubungan laki-laki dan perempuan , maka nafsu birahilah yang akan menjadi tali pusar cintanya – apabila libido seksualitas telah terbuncah, maka terkaparlah cinta saat itu juga. Tak salah lagi, orang yang tergila-gila pada jabatan, pangkat atau kedudukan sebagaimana orang-orang yang tergila-gila pada kekayaan materi, adalah termasuk dalam kepemilikan cinta majasi ini. Kesombongan, keserakahan, keangkuhan, kenekatan, dan ketidak pedulian menjadi warna dari cinta seperti ini.

Berangkat dari hal itulah kita bisa memahami pemikiran Ayatullah Khomeini yang mengatakan bahwa cinta majasi adalah cinta yang tercela. Dikatakan pula bahwa syariat juga tidak membenarkan jenis cinta yang seperti ini, sebab hakikatnya ia adalah nafsu )birahi) semata, bukan cinta yang sebenarnya. Bila diteguk, cinta yang seperti ini akan menjadi menjadi anti klimaks dan terkulai lalu terlempar ke liang kejenuhan. Sebaliknya, cinta hakiki akan menjadikan si pencinta akan bahagia dengan cintanya.

Maka apakah yang dimaksud dengan cinta hakiki?

Jawabannya mudah, ialah apa yang sebaliknya dari cinta majasi. Pusat cinta hakiki bukan ego atau nafsu individual, tetapi pusat cinta tersebut adalah Ilahi.

Disadur dan diubah seperlunya oleh penulis dari buku Pacaran Setengah Halal Setengah Haram..

TrackBack Identifier URI

  • Laman

  • Al-Qur’an Site

    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” An-Nisa’:142
  • Mutiara Nasihat

    Saudara-Ku.. Dalam Perjalanan Dakwah ini, ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh. Ia berkata "Aku Lelah". Namun, ada juga orang-orang yang tubuhnya lelah, pikirannya penat, problem hidupnya banyak, ekonominya pas-pasan, tetapi semangatnya kuat! Ia Berkata "LILLAH" karena Allah.. Maka ikhlaskanlah saudara-Ku! Sebab bila tidak kau akan tersakiti.. Untuk semua saudaraku yang merasa dirinya "dikhianati" oleh dakwah, yakinlah, kembalikanlah semua amal dan dakwah kita kepada pemilik dakwah ini.. Jangan berhenti berjuang! Jangan berhenti menasihati! Dan jangan pernah berhenti untuk melangkah bersama!! Sebab kita beramal bukan untuk manusia, bukan untuk golongan, bukan untuk organisasi, bukan untuk partai.. Semua ini hanyalah sarana untuk mencapai ridho-Nya!!
  • Hadist Corner

    Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr رضي الله عنه, katanya: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)
  • Kotak Ngoceh..